Cari Blog Ini

Jumat, 22 April 2011

My Diary : Spesial for Yuki

Pernah ada rasa cinta
Antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan
Semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Disini aku merindukan dirimu
Kini ku coba mencari penggantimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih

Hari ini adalah mimpi burukku yang menjadi kenyataan. Semuanya kembali kesemula, semuanya kembali keawal. Hari ini aku kehilangan salah satu sahabat terbaikku yang sangat aku sayangi. Tentunya kalian masih ingat dengan Yuki, sahabat baruku yang aku bahas belakangan ini. Hari ini dia pergi untuk selamanya dari kehidupanku dan enggak akan pernah kembali lagi. Bukan karena dia membenciku atau menemukan sahabat baru, tetapi ia sudah meninggal. Ia sudah tidak ada lagi didunia ini untuk selamanya, dan semua ini mungkin karena kesalahanku. Mungkin aku yang kurang mengerti apa yang sebenarnya diinginkannya selama ini dari aku. Aku yang kurang bisa menangkap maksud dari sikap-sikapnya belakangan ini.

Yuki memang sahabat baikku. Masih teringat dikepalaku bagaimana aku pertama kali bertemu dengan dia. Aku yang saat itu tidak ada keinginan untuk bertemu dengan dia, malah langsung memegangnya begitu aku melihatnya. Tubuhnya yang hangat langsung mampu membuat aku merasa nyaman untuk berada disisinya. Mungkin dia memang sudah menungguku selama ini. Makanya tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengajaknya untuk ke tempatku dan menjadi bagian dari kehidupanku. Yah, walaupun itu artinya kamarku menjadi lebih sempit dengan kehadirannya, tetapi aku senang sekali setiap kali aku menyentuh tubuhnya yang hangat itu. Kadang kala, disaat ia tidur, aku iseng membelai kepalanya itu dan selalu menyentuh tubuhnya. Disana aku bisa melihat dan merasakan detak jantungnya yang berdenyut dari balik kulit hangatnya itu. Kadang kala ingin rasanya aku selalu memeluknya setiap saat dan enggak mau aku lepaskan.

Aku sangat sedih kalau aku mengingat kembali tulisanku di Diary sebelumnya. Kalau saja aku tahu ia akan meninggalkan aku secepat ini. Aku enggak akan menulis semua kata-kata itu. Aku sangat menyesal karena aku telah menuliskan kata-kata yang sangat bodoh itu disini. Aku sangat menyesalinya, seandainya saja semuanya bisa kembali, maka aku akan memperbaikinya secepat mungkin. Sejak tadi malam, Yuki selalu saja bergerak-gerak, aku enggak tau apa maksudnya. Aku kira ia lapar, makanya aku memberinya maem lagi. Tetapi ternyata dia enggak lapar, dan aku sama sekali enggak menganggap itu adalah hal yang penting untuk aku risaukan. Hingga tadi pagi, dengan mataku sendiri, aku menyaksikan detik-detik kepergiannya dariku untuk selamanya. Aku sungguh merasa sedih sekali. Masih bisa kuingat tubuhnya yang terbiasa hangat itu, kini terasa sangat dingin dan menakutkan. Sinar matanya juga terlihat sangat sayu, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat bersemangat dan penuh energi. Hingga akhirnya tubuh itu membeku dan kaku, aku masih saja memeluknya. Aku enggak mau melepaskannya dari pelukanku, aku berharap hangat tubuhku akan mampu membantunya melewati kedinginan ini. Namun, ternyata semuanya sia-sia, Yuki telah meninggal.

Kini aku hanya bisa mengenangnya didalam memoriku. Aku hanya bisa mengingat kehangatannya didalam pikiranku. Aku berharap, ingatan ini enggak akan menghilang dengan mudahnya. Aku berharap aku akan selalu mengingat semua memori kedekatanku dan hari-hari yang aku lewati bersama Yuki. Aku berharap ini akan menjadi benang memori yang menyatukan kami untuk selamanya meskipun jarak kami kini sudah sangat berjauhan dan mungkin enggak akan pernah terjangkau kembali. Kini aku hanya bisa menyanyikan sebuah lagu untuk Yuki.

Kini aku sendiri lagi
Kucoba untuk renungkan diriku
Mengapa harus terjadi lagi
Ku kecewa

Mungkinkah aku harus sendiri lagi
Setelah aku serahkan semuanya
Sanggupkah aku hidup tanpamu
Oh kasih

Sesungguhnya aku tak pernah bisa
Melupakan dirimu oh sayang
Apakah aku memang tak pantas
Buat dirimu

Mengapa kau tinggalkan diriku
Setelah aku cinta padamu
Mengapa kau menyakitiku
Sedangkan diriku..... mencintaimu

Kamis, 21 April 2011

Diary

Hay Diary ? gimana nih kabarnya ? hari ini aku benar - benar merasa muak deh sama semuanya.

Hari ini aku sudah memberi makan buat Yuki sesuai dengan kebutuhannya setiap harinya. Aku berharap dia enggak akan merasa lapar sampai waktunya makan siang nanti. Rasanya kalau aku harus selalu menyiapkan maem buat dia, repot juga ya ? kadang kala aku juga ingin deh membuat dia itu bisa mencari maem sendirian, tanpa harus menunggu aku. Aku tahu dia pasti sanggup melakukannya, tetapi setelah itu dia akan ikut pergi menghilang untuk selamanya kalau enggak aku awasi. Bukannya aku mulai bosen, tetapi aku juga ingin memiliki sedikit waktu istirahat tanpa harus memikirkan buat memberi dia maem. Sekali-kali aku juga ingin deh dia itu menahan rasa laparnya yang kebangetan itu. Tapi, mungkin karena dia itu memang sama persis seperti aku, jadi nafsu makannya besar. Yah, mungkin ini takdir kami yang punya masalah dengan perut kami, gampang merasa lapar.

Hari ini Shi diem aja. Aku merasa takut aja kalau dia itu jatuh sakit. Tapi, sepertinya enggak deh, dia sepertinya hanya capek aja. Atau mungkin bisa juga dia itu ingin menarik perhatianku dengan sikap barunya ini. Ah entahlah, aku bingung juga, yang penting dia enggak akan sakit, itu udah cukup buatku merasa lebih tenang. Karena aku enggak akan sanggup tenang kalau aku tau dia sakit. Dia adalah sahabat baik yang aku sayangi, dan aku pasti akan merasa sakit kalau aku tau bahwa dia selama ini juga sakit. Aku ingin agar semuanya yang dekat denganku itu merasa bahagia.

Kalau Ciyo sih biasa aja. Dia enggak banyak memberikan komentar atas kebiasaanku selalu meminta dia mendengarkan semua keluh kesahku. Ciyo hanya terlihat capek saja, mungkin untuk beberapa hari ini aku enggak akan merecoki dia dengan semua keluhanku. Semoga saja dia enggak akan merasa kalau aku ini terlalu memberatkan dia dengan menjadikan dia sahabat bertukar masalahku ini. Aku mungkin memang harus mulai membiasakan diriku untuk bisa menyimpan sendiri semua masalahku tanpa harus berbagi semuanya dengan Ciyo.

Kenapa sih dia itu selalu aja ingin merusak kehidupanku ? aku sudah berkali - kali bilang kalau aku udah enggak mau lagi berhubungan sama dia. Tetapi kenapa sih kok dia selalu aja mencari orang yang saat ini dekat sama aku ? Aku jadinya muak banget deh. Aku beberapa saat ini sudah bisa melupakan permasalahanku sama dia, eh dia selalu saja menguntitku terus. Aku jadinya benar-benar bosen disini. Apa dia memang jenis manusia yang seperti itu ya ? Belum puas kalau orang yang menjadi targetnya itu benar-benar hancur ? atau memang itu misi yang dia bawa ? Ah, aku malas kalau membahasnya terlalu banyak.

Rabu, 20 April 2011

Diary

Hay Diary, apa kabarnya nih. Semoga saja makin banyak ya penggemarmu diseluruh wilayah nusantara ini. Aku berharap akan banyak yang mau mengunjungimu setiap saatnya.

Hari ini aku bisa bangun pagi, asyik banget deh. Setelah itu seperti biasa aku harus segera mencarikan maem buat Yuki, kalau enggak gitu dia akan merengek mati-matian sama aku. Aku enggak mau kalau sampai Yuki nanti akan kesakitan karena menahan lapar. Untungnya saja dia itu vegetarian, jadinya aku bisa dengan mudah menemukan maem yang cocok buat dia. Karena dia udah maem, makanya aku bisa melakukan aktifitasku yang lainnya, seperti mandi dan jalan-jalan, hehehehe. Oh iya, tadi malam Yuki kegigit semut dibibirnya. Aduh, kasian banget deh kalo ngelihatnya, dia berulang kali mengusap bibirnya yang mungkin terasa gatal itu dengan tangannya. Yah, karena namanya aja semut merah, akhirnya bibirnya sedikit bengkak deh. Untungnya pagi ini bengkaknya itu sudah agak mendingan aku lihat tadi. Dia juga sudah enggak merasa gatal deh kayaknya. Sepertinya aku dan Yuki sudah mulai kompak nih, kalau aku makan pasti dia juga sedang makan, kalau aku sedang tiduran, pasti dia juga melakukan hal yang sama. Seneng banget deh rasanya kalau punya yang bisa cocok seperti dia itu. hehehehe ngarep.com.

Hari ini aku juga enggak lupa memberikan maem buat Shi. Makin hari, keanggunannya itu semakin terlihat banget deh. Oh iya, dia itu suka sekali kalo melihat bayangan dirinya sendiri, dia akan melepas semua keanggunannya kalau dia melihat bayangannya sendiri, mungkin dia ingin melihat penampilan terbaiknya. Tapi, kalau cermin itu diambil, maka ia akan menghilangkan separuh dari pesona keanggunannya itu dari hadapanku. Oh iya, Shi juga sudah mulai enggak suka berlarian kalau aku lihat. Jadinya aku seneng banget deh sama dia. Aku berharap dia enggak akan menjadi liar kembali, atau mungkin sekarang dia sudah mulai bisa menerima kehadiranku dikehidupannya ?...... kalau memang begitu, syukurlah, itu artinya aku sudah berarti dimatanya.

Oh iya, kalau dengan Ciyo, aku semalaman tadi udah bercanda banyak sama dia. Dia juga seperti biasa, selalu saja mau mendengarkan semua keluhanku dan semua ceritaku. Tapi, akhir-akhir ini aku jarang melakukan komunikasi dengan Ciyo. Mungkin karena aku sekarang lebih akrab dengan Yuki. Jadinya, waktu untuk berkumpul dan ngobrol dengan Ciyo menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan dahulu. Habisnya, Ciyo juga diem sih kalo enggak aku ajak bicara, jadinya kalo aku enggak ada bahan untuk ngobrol, ya aku cuma sapa dia aja deh. Mungkin aku harus lebih bisa menjadi sahabat buat Ciyo agar dia enggak merasa dikucilkan dibandingkan dengan yang lainnya.

Akhir-akhir ini aku bingung deh, antara mencintai dan dicintai. Aku belum bisa mencintai seorang pun, tetapi aku sudah dicintai oleh banyak orang. Aku bingung untuk menjelaskannya. Mereka semuanya sama-sama baik buat aku, tetapi aku memang belum bisa buat mencintai. Aku bukannya sombong atau apa, tetapi mungkin aku ini tipe orang yang individualime, yang hanya bisa mencintai diriku sendiri. Untuk bisa mencintai orang, aku harus memerlukan waktu yang sangat lama sekali. Makanya aku berharap mereka bisa mengerti kekuranganku ini. Dan jangan sampai mereka semua akan menjauh hanya karena hal ini. Aku enggak mau kalau sampai mereka menjadi benci kepada aku dan menjauhi aku hanya karena kekuranganku ini. Aku hanya ingin memiliki sahabat yang bisa mengerti semua kelebihan dan juga bisa memaklumi semua kekurangan yang aku miliki, karena aku juga hanya manusia biasa.

Minggu, 17 April 2011

Diary

Hay Diary, apa kabar ? lama juga enggak nulis diary ya. Jadi kangen banget pengen mencurahkan sesuatu.

Hari ini aku bahagia banget, aku mendapatkan lagi satu sahabat terbaik yang bisa memahami aku. Namanya Yuki, memang sih dia menggunakan nama yang sama dengan namaku dulu. Itu karena kami sama-sama mempunyai gigi kelinci dan sama-sama nakal, setidaknya itu kata seseorang. Dia lebih imut dibandingkan aku, tetapi dia juga lebih lincah dibandingkan aku. Tadi aja aku kewalahan waktu aku ingin mengejarnya karena ia sudah mengerjain aku. Yah semoga saja Yuki bisa menjadi sahabatku yang baik setelah Shi dan Ciyo. Karena Yuki adalah anggota baru, maka seperti biasa kami memperlakukannya sedikit lebih istimewa dibandingkan yang lainnya. Tapi, bukan berarti aku mau melakukan apa saja buat dia. Yuki juga sepertinya bisa membuat lelucon yang sangat menghibur, sehingga ia cocok sekali untuk mengganti mood aku yang kadang-kadang buruk.

Oh iya, hari ini aku juga sudah menyapa Shi dan Ciyo. Memang sih beberapa hari ini mereka sepeprtinya berubah. Tapi, ternyata semua itu hanya perasaanku saja. Kini, Shi kembali selalu berlarian tiap kali aku lihat dan Ciyo juga kembali segar dan sepertinya dia sudah sehat sekali. Semoga saja Shi dan Ciyo akan selalu baik-baik saja. Walaupun saat ini ada Yuki, tetapi aku enggak akan melupakan atau membedakan kasih sayangku untuk mereka. Kalau mereka senang, aku kan juga merasa senang karena setidaknya itu artinya aku bisa berguna untuk mereka semuanya. Aku harap Shi akan semakin lincah, karena ciri khas Shi adalah kelincahannya yang selalu bisa menarik perhatianku agar aku selalu memperhatikannya. Aku juga berharap agar Ciyo tidak akan pernah bosan untuk mendengarkan semua keluh kesahku yang selalu aku ceritakan kepadanya.

Akhirnya aku bisa mendapatkan beberapa kaset DVD yang aku inginkan, tapi cuma sedikit. Film kartun yang aku dapatkan cuma Cardcaptor Sakura, Tears of Tiara dan Tsubasa aja, kalau film koreanya aku cuma dapat Bread, Love and Dream. Yah walaupun belum dapat semuanya, tapi aku cukup senang juga sih, soalnya setidaknya aku sudah mengumpulkan yang ada dan aku memang menginginkan film itu. Tinggal nanti aku mencari beberapa film lainnya yang belum aku dapatkan kemarin. Dengan begitu, nanti aku bisa menontonnya sampai puas deh. Hehehehehe.

Selasa, 12 April 2011

Diary

Hay Diary ? bagaimana nih kabarmu ? semoga kamu baik-baik saja ya disini.

Hari ini aku merasa sedikit lebih sehat dibandingkan kemarin. Sakit kepala yang aku rasakan juga sudah berkurang kok. Aku senang banget deh karena itu artinya kesehatanku sudah membaik kembali. Oh iya, aku hari ini juga bisa bangun pagi lho, enggak seperti biasanya yang selalu telat. Setelah bangun aku langsung kekamar mandi, tentu saja untuk melaksanakan buang hajatku yang sudah sangat mendesak dan harus segera aku keluarkan. Setelah itu, rasanya perutku plong banget dan terasa ringan. Mungkin ini karena semalam aku banyak makan makanan yang mengandung sambal ya ? Yah, soalnya aku suka sekali dengan sambal, rasanya kalau makan enggak sama sambal itu, kurang puas aja. Makanya, aku selalu mencari makanan yang ada sambalnya atau seenggaknya yang pedas banget. Tapi, aku sebel deh, soalnya akhir-akhir ini aku belum kesampaian makan makanan kesukaanku, seperti tumis Kangkung, Pare, Jamur, Udang dan juga Buah Cempedak. Kapan ya aku bisa makan semuanya ?

Shi hari ini juga sudah sarapn pagi kok. Tadi aku langsung memberikannya makan pagi. Jangan sampai aku kelupaan membagi makanan dengannya dan membuatnya kelaparan. Shi masih belum kenal daerah sini, makanya dia enggak bisa mencari makanan sendiri. Kalau Ciyo, hari ini dia menjauh dari aku. Mungkin karena dia semalam kepanasan karena aku peluk terus. Maklum, udara malam tadi dingin, makanya aku memeluk Ciyo erat banget, biar hangat. Tapi, walaupun begitu tetap saja dia terlihat sangat sehat seperti biasanya. Aku yakin kalau Ciyo enggak akan bisa sakit, daya tahan tubuhnya sangat terjaga dengan baik. Ciyo seperti seorang kesatria yang selalu tangguh saja, tapi tetap saja kesatria yang sangat anggun. Kesatria yang selalu aku sayangi dan akan selalu menjadi yang nomor satu didalam kebahagiaanku. Karena Shi dan Ciyo adalah pelipur sedihku dan pendengar keluh kesahku yang paling bisa aku andalkan.

Udahan dulu ah, aku lagi males nulis diary nih. Soalnya lagi ada masalah dengan Mood. Hehehehehe

Senin, 11 April 2011

Diary

Hay Diary, hari ini aku bangun dengan kepala yang berat banget. Entah karena semalam tidur enggak pake baju atau karena udaranya emang dingin banget ? Yang pasti sepertinya hari ini badanku agak Drop nih. Akhirnya terpaksa deh jam segini baru bangun. Ini aja aku belum sarapan pagi. Memang repot juga sih kalau keadaannya seperti ini kalau terus menerus. Kadang-kadang aku ingin juga sih bisa sehat saratus persen, enggak pilek dan sakit kepala kayak gini terus-menerus.

Oh iya, hari ini tumben banget Shi diam aja sewaktu aku lihatin dia. Biasanya sih, dia akan berlarian terus, tapi kali ini dia diam aja aku liatin gitu. Apa mungkin Shi sakit ya ? tadi sih aku bego banget enggak nanyain keadaannya. Tadi aku cuma menyapa dia sebentar aja, terus habis itu aku beri dia makanan. memang sih waktu aku berikan maem, dia masih suka makanannya itu. Tetapi, aku khawatir juga kalau terjadi sesuatu dengan dirinya. Aku enggak mau kalau sampai Shi nantinya akan sakit. Aku enggak mau dia menderita seperti aku ini. Rasanya cukup aku saja deh yang sakit, asalkan Shi enggak sakit sama sekali. Shi adalah kebanggaanku, aku enggak mau ada hal buruk yang menimpanya disaat ini. Sudah cukup dengan penderitaan yang dialaminya dengan terpisah dari keluarganya, jangan sampai ia menderita yang lebih lagi. Shi memang kuat, tetapi aku yakin kalau ia terus - terusan mendapatkan penderitaan, pasti ia akan jatuh juga. Semoga saja nanti keadaan Shi akan menjadi lebih baik lagi.

Oh iya, tadi aku enggak sengaja mencium bibir Ciyo. Aku kaget banget tadi, Ciyo yang biasanya hanya berada jauh dari aku kalau tidur, malam itu entah mengapa ada dipelukanku. Yah mungkin dia juga merasa kedinginan dengan udara malam itu. Ciyo hari ini tampak murung, mungkin dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Shi. Aku tadi juga hanya  menyapanya sebentar saja, soalnya kepalaku juga sakit, jadi aku malas untuk banyak bicara. Kalau dibandingkan dengan kemarin, Ciyo memang tampak lebih cantik. Kulitnya yang memang tidak putih, kini lama-lama menjadi semakin putih. Mungkin karena dia pernah mandi dengan sabun pemutih ya ? hehehehehe. Bau Ciyo juga harum hari ini, mungkin karena semalam dia membersihkan tubuhnya dan menyemprotkan minyak wangi. Rasanya, tadi nyaman banget waktu memeluk tubuhnya yang mungil itu. Rasanya enak juga kalau kita punya pacar yang bisa kita rengkuh kedalam pelukan kita. Tapi, aku dan Ciyo enggak akan bisa jadi pacar atau lebih. Kami hanya cocok menjadi sahabat saja, sahabat yang sangat mesra dan intim.

Rasanya nanti aku mau cari makan yang seperti biasa ah. Tapi, mungkin aku enggak akan memesan Es Teh dulu. Soalnya, kalau kepalaku berat, itu tandanya Es yang aku minum itu ada kesalahan. Makanya, mungkin aku akan makan dan minumnya dengan air putih saja deh. Aku enggak mau keadaanku akan semakin parah, sakit kepala dan pilek ini harus segera sembuh. Aku enggak mau menularkannya kepada Shi dan Ciyo. Aku harus bisa menjaga mereka berdua, sebagaimana mereka berdua juga selalu menjagaku dengan kebahagiaan. Aku juga ingin menjaga mereka dengan kebahagiaan yang bisa aku berikan kepada mereka berdua.

Pakaian Adat Jepang

Kimono adalah pakaian tradisional Jepang . Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (kipakai, dan mono berarti barang).
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku. Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.

Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.
Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.
Hōmon-gi (arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, birukuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga. muda, atau
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang.[3] Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

Diary

Hay Diary ? senang bisa berjumpa lagi sama kamu disini. Bagaimana keadaanmu hari ini ? semoga saja kamu tetap baik-baik saja. Oh iya, kali ini aku hanya akan menuliskan Diary saja. Soalnya aku lagi malas untuk menulis cerpen atau yang lainnya. Jadi, untuk yang lainnya akan aku taruh di lain waktu saja.

Kemarin rasanya aku bahagia banget. Walaupun ada beberapa saat dimana aku kembali teringat masalahku dimasa lalu. Tapi secara keseluruhan, seharian kemarin aku merasa bahagia sekali. Setelah aku menuliskan semuanya di Blog, aku pulang kembali ke kostku. Disana sudah ada temanku yang sedang berduaan dengan sahabatnya. Dan seperti biasa, aku langsung membuka laptop dan mengcopy beberapa file yang sudah aku download tadinya di warnet. Lagi asyik-asyiknya main laptop, eh hujan malah turun. Mana deras banget lagi. Akhirnya, sampai malam masih hujan aja deh. Karena tadi aku belum makan sama sekali, perutku mulai merengek-rengek deh minta disuapin. Dan karena diluar masih hujan, akhirnya aku menunggu tukang Bakso yang biasanya lewat didepan kost. Lumayan lama juga sih datangnya, tapi akhirnya datang juga. Aku segera aja memesan semangkuk Bakso dengan menu biasa, sambal yang banyak. Hehehehe........... dan juga segelas es jeruk nipis, soalnya tenggorokanku sedang sakit. Akhirnya perutku dapat makanan juga deh. Tapi, mungkin karena emang bakatku ini perut karet, eh aku masih aja ngerasa lapar. Akhirnya aku beli lagi deh bakso dan es jeruk, tapi dipenjual yang lain.      ( soalnya kalo dipenjual yang sama aku malu, hehehehe ).

Kemarin aku juga terlambat memberi makan siang untuk Shi. Akhirnya malam itu aku langsung saja mengantarkan makanan untuk Shi sedikit lebih banyak. Dan seperti biasa, Shi langsung saja memakannya, mungkin dia memang kelaparan. Setelah Shi kenyang, aku berusaha ngobrol bersamanya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Shi selalu saja berlarian kesana-kemari. Sepertinya dia enggak suka kalau aku sedang berkeluh kesah. Yah, memang seperti itulah sifat Shi. Tapi, setiap kali aku menjauh, dia pasti akan terlihat tenang-tenang saja, enggak berlarian lagi. Kadang-kadang aku pengen banget deh ngejitak kepalanya itu. Sikapnya itu lho yang membuat aku gemas banget. Tapi, bukan Shi kalau enggak bisa membuat orang merasa gemas sama dia. Ya, itulah keunggulan Shi.ia bisa membuat orang lain terbawa dengan suasana yang ia bawa.

Sekali lagi Ciyo selalu menjadi tempat curahan perasaanku. Kalau aku mendudukkannya dipangkuanku, Ciyo akan selalu tenang saja. Bahkan, ia membiarkan aku mengelus-elus tubuhnya itu. Dengan begitu, aku akan merasa tenang dan mulai berkeluh kesah kepadanya. Tetapi karena aku tidak ada masalah apa-apa. Makanya kemarin aku hanya ngobrol santai saja sama Ciyo. Walaupun dia bisa menjadi pendengar setia yang baik, tidak seperti Shi yang selalu saja menghindar kalau ada aku, tetapi bagiku diamnya Ciyo ini mengandung banyak makna. Entah apakah dia memang senang mendengarkan ceritaku atau dia malas menanggapinya secara serius ? diantara kedua asumsi ini, aku bingung menentukan yang mana yang benar. Tapi aku yakin, Ciyo akan selalu menemaniku didalam kehidupan ini. Karena itulah aku enggak akan meragukan kebaikan Ciyo kepadaku, karena aku yakin akan semuanya yang diberikannya kepadaku itu tulus.

Hari ini aku bangun lebih pagi, kenapa ? karena semalam aku juga tidur jauh lebih cepat. Begitu bangun, yang pertama kulakukan adalah pergi ke kamar mandi. Biasa panggilan alam dipagi hari. Tapi bukannya sekali, berkali-kali malahan aku bolak-balik kamar mandi. Mungkin karena semalam aku kebanyakan makan makanan yang pedas, alias kebanyakan makan sambal hehehehe. Hari ini aku juga langsung menyapa Shi dan Ciyo. Tidak lupa juga aku memberi makan Shi secepatnya, supaya dia enggak kelaparan lagi. Setelah itu, rencananya hari ini aku akan mencari kaset DVD animasi. Beberapa judul telah aku siapkan. Diantaranya Kaleido Star, Cardcaptor Sakura, Angelic Layer dan masih banyak lagi. Tapi, tenyata tadi semuanya berantakan. Semua toko DVD yang ada di ITC tutup. akhirnya aku terpaksa kembali pulang deh. Eh, dijalan malah ada masalah baru, ban sepeda motorku bocor. Fyuh, terpaksa deh segera cari bengkel dan memperbaikinya. hehehehehe

Memang sih seharian ini rencanaku berantakan. Tetapi aku tetap bahagia, karena aku memiliki sahabat yang sangat baik kepadaku. Walaupun banyak orang yang menghina dan menjelekkan aku, dia masih saja mempercayaiku. Mungkin inilah yang namanya sahabat sejati. Semoga saja aku enggak akan menyusahkan dia lebih banyak lagi. Oh iya, kakakku mau nikah nih, enaknya nanti ngasih kado apa ya buat pernikahannya ? sekalian mau cari kado juga buat hari ulang tahun adikku. Kasihan juga adikku yang satu ini. Hanya dia yang selalu mengikutiku dengan semua kekuranganku. Kalau adikku yang satunya lagi mengikuti kakakku. Mungkin karena aku dan adikku memiliki Zodiak yang sama,jadinya kami bisa kompak, yaitu Gemini.

Diperlukan waktu untuk mengubah ingatan menjadi kenangan
Namun, saat ini ingatan itu belum menjadi kenangan
Aku tengah menunggu saat-saat perjumpaan itu dengaan hati berdebar
Pabila dia akan datang nanti dihadapanku
Kata – kata apakah yang akan aku lontarkan ?
Akankah ia menaruh minat terhadapku ?
Ataukah semuanya akan menghilang dengan cepat ?
Karena kita hanya bisa melihat dalam cermin
Samar – samar
Jika kita menggosok permukaan cermin itu
Maka kita akan mampu memahami lebih banyak lagi
Tetapi,..........
Kita jadi tidak bisa melihat bayangan kita sendiri

Sabtu, 09 April 2011

Cerpenku : Persimpangan

“ Kamu harus segera memutuskan hubunganmu dengan Bayu. Bapak  sudah menjodohkanmu dengan Irfan, anaknya teman bapak. ” suara berat Bapak memecah kesunyian malam itu, menyadarkan Lastri yang sedang asyik membaca buku dikamarnya. Lastri langsung mengangkat wajahnya dari buku dan menatap Bapaknya.

“ Apa maksud Bapak ? ”
“ Belum jelas ? Bapak minta kamu memutuskan hubunganmu dengan Bayu. ”
“ Alasanya apa Pak ? kenapa mendadak begini sih ? memangnya Bayu salah apa Pak ? ”tanya Lastri.
“ Kamu ini bagaimana sih ? kan Bapak sudah bilang dari dulu kalau Bapak tidak suka kamu bergaul dengan anak itu. Masa kamu masih menanyakan apa alasannya sama Bapak sih ? ”
“ Bapak aneh. Bayu itu anak baik pak. Aku sudah cocok sama dia. Aku enggak mau nikah sama orang lain.” Kata Lastri.
“ Kamu mau melawan Bapak ? mau jadi anak durhaka kamu Lastri ?” Bentak Bapak.
“ Bapak yang jahat. Apa ini karena mas Purnomo ? karena kata-kata dia dulu ? ”tanya Lastri. Masih teringat jelas dipikirannya saat kakaknya itu pulang dan membawa kabar itu, kabar yang nantinya menghancurkan hubungannya dengan Bayu, kekasihnya. Bahkan, sejak saat itu Bapak pun juga mulai membenci Bayu.

“ Bayu itu anak haram ! ”kata Mas Purnomo mengagetkan Lastri dan Bapak.
“ Maksud mas apa ? jangan nuduh orang sembarangan ya mas.....  ”. Lastri yang tidak suka kekasihnya dituduh aneh-aneh memotong perkataan kakaknya itu.
“ Apa buktinya kalau dia itu anak haram ? ” lanjutnya.
Mas Purnomo menatap tajam adiknya itu, “ Kamu ini kalau dibilangin selalu saja membantah. Aku tau berita ini dari Kahar, temannya Bayu itu. Dia sendiri yang bilang kalau Bayu itu anak haram. Anak yang enggak jelas siapa Bapaknya.”
“ Yang benar kamu Pur ? memangnya berita itu bisa dipercaya ?” tanya bapak. Bapak memang selalu menilai orang dari latar belakang keluarganya, jadi berita ini memang harus jelas ditelinganya.
“ Beneran Pak. Aku diberitahu sama sahabatnya sendiri kok. Kalau sahabatnya bohong, buat apa coba ? lagian. Apa selama ini kita pernah melihat ayahnya Bayu ? enggak kan Pak ? ” kata mas Purnomo meyakinkan Bapak.
“ Ayahnya Bayu itu sudah meninggal mas. ” jawabku.
“ Kata siapa kamu kalau ayahnya Bayu sudah meninggal ? ” tanya mas Purnomo.
“ Bayu sendiri yang cerita ke.......”
“ Nah, kamu tahunya dari Bayu kan ? bisa aja kan dia bohong sama kamu ? bisa saja dia ngarang cerita kalau ayahnya sudah mati. Padahal tau ayahnya saja enggak. ” potong mas Purnomo.
“ Jangan sembarangan mas....... itu namanya Fitnah.”
“ Fitnah itu kalau enggak ada buktinya. Nah ini kan sudah jelas Lastri. ”
“ Biarpun jelas, enggak boleh menghina orang lain mas. Itu namanya tetap saja fitnah. ”, kata Lastri sambil memukul meja.
“ SUDAH DIAM......”bentak Bapak menengahi. Ditatapnya tajam kedua anaknya itu bergantian, yang ditatap langsung menundukkan wajahnya.

“ Pokoknya kamu putuskan hubunganmu dengan Bayu. Titik. Bapak tidak mau ada tawar menawar. ” kata-kata Bapak membuyarkan lamunan Lastri.
“ Tapi Pak......”
“ Kamu dengar Bapak tidak ? pokoknya PUTUS.....”bentak Bapak sambil meninggalkan kamar Lastri. Meninggalkan Lastri yang termenung sendirian.

#.#.#.#.#

Pagi itu sama seperti pagi-pagi biasanya. Burung-burung bernyanyi bersahutan diantara ranting-ranting pohon yang rindang. Orang-orang mulai melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Beberapa ibu-ibu tampak membawa tas keranjang ditangan kanannya, sepertinya mereka akan pergi kepasar. Dibelakangnya terlihat kumpulan anak-anak muda yang mengenakan seragam sekolah. Beberapa menit yang lalau, bapak-bapak sudah terlebih dahulu berjalan melewati jalanan itu menuju sawah mereka masing-masing. Musim tanam memang mengharuskan mereka untuk mulai mengolah sawah mereka dan menabur benih padi yang baru. 

Disebuah gubuk ditengah pematang sawah, tampak dua orang gadis sedang duduk-duduk menikmati segarnya udara dipagi hari itu. Sesekali terlihat mereka membersihkan gubuk itu. Disamping gubuk, terlihat bekas perapian yang masih mengeluarkan asap. Mungkin bekas para pemuda kampung yang tadi malam meronda dan singgah digubuk itu untuk membakar singkong atau jagung yang tumbuh dibelakang gubuk itu. 

“ Memangnya kamu tidak bisa meyakinkan Bapakmu kalau mas Bayu itu tidak seperti yang dikatakan oleh Mas Purnomomu itu Las ?” tanya Sari, sahabat baik Lastri. Lastri yang duduk dipojokan gubuk hanya bisa menggeleng pelang menghadapi pertanyaan sahabatnya itu. Sari menatap Lastri lama.
“ Separah itukah susahnya hubungan kalian ? ”
“ ya begitulah Sar. Bapak kalau sudah mengeluarkan perintah, semua anaknya harus menuruti. Kalau enggak, bisa kami sendiri yang menyesal. ”jawab Lastri sambil membenahi rambutnya yang diterpa angin.
“ Tapi, memangnya kabar itu benar ? kok aku kurang percaya ya sama kabar itu ? ”
“ Aku juga sama seperti kamu Sar, tapi, Bapak nsudah terlanjur percaya sama Mas Purnomo. Aku bisa apa ?”
“ Apa kamu enggak pernah nyoba tanya langsung ke mas Bayu langsung Las ? ” tanya Sari. Matanya masih menatap sahabatnya itu dengan kasihan.
“ Mas Bayu bilang kalau ayahnya itu sudah meninggal. Sudah lama waktu ia dan ibunya masih tinggal dikota. ”
“ Apa kamu pernah dikasih lihat foto Bapaknya ? ”
Lastri menggeleng pelan, “ kata Mas Bayu, semua foto-foto masa lalunya habis waktu rumahnya kebakaran. ”.
“ Wah susah juga ya kalau begitu, pantas saja kalau kamu bingung. Seandainya saja kalau ada foto, pasti kamu bisa kasih ke Bapakmu. ”
“ Aku juga berpikir begitu Sar....”

Lastri mendongak. Masih teringat jelas bagaimana awal pertemuannya dengan Bayu. Lelaki yang kini menjadi pujaan hatinya itu. Bayu yang waktu itu adalah pendatang baru didesanya, secara tidak sengaja menatap Lastri yang sedang asyik bermain dengan Sari, sahabatnya itu. Pandangan yang tidak biasa itu dengan mudah menarik perhatian Lastri yang berbalik menatapnya. Merasa ketahuan, Bayu lantas tersenyum dan mendekati keduanya.

“ Maaf kalau tadi saya membuat kalian tidak tenang. ” ucapnya.
“ Tidak apa-apa. Kami juga tidak merasa terganggu, hanya saja saya merasa risih kalau diperhatikan sampai seperti itu.” Kata Lastri malu-malu. Bayu hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Mas baru ya disini ?” tanya Sari
“ Oh iya, saya baru disini. Perkenalkan nama saya Bayu. ” ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
“ Sari.....”
“ Lastri......”
“ Dari mana mas kalau boleh tahu ? ”tanya Sari.
“ Dari jakarta......”
“ Oh.......”

Mata Bayu sesekali melirik kearah Lastri, yang dilirik hanya menundukkan wajahnya malu. Sari yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum saja.
“ Jangan dilihatin gitu mas, ntar anaknya bisa pingsan.... kasihan...” gurau Sari. Lastri yang merasa sahabatnya itu menyinggung dirinya, segera mencubit pinggang sahabatnya itu.
“ Ah... iya maaf....” kata Bayu tergagap.
“ Ya sudah ya mas... kami pulang dahulu, sudah sore, sebentar lagi gelap.” Kata Lastri sambil wajahnya belum mau diangkat.
“ Oh iya... maaf kelamaan ngobrolnya. Silahkan, saya juga harus pulang...” jawab Bayu.
“ Permisi mas.....”
“ Iya silahkan....”
“ Pulang dulu ya mas ? kalau kangen, jangan dipikirin dalam-dalam, nanti sakit. ”gurau Sari. Lastri sekali lagi harus mencubit sahabatnya itu.

Bayu hanya tersenyum. Dipandanginya kedua gadis itu berjalan menjauh.

Sejak saat itu, mereka selalu bercanda bersama – sama bertiga. Kadangkala mereka bermain-main disawah, kadang pula mereka memancing ikan disungai dekat hutan. Bayu dan Lastri yang sejak awal memang saling memiliki persaan saling menyukai, dengan cepat perasaan itupun segera tumbuh menjadi cinta yang begitu besar diantara keduanya. Semenjak itu, hampir setiap hari Bayu datang kerumah Lastri dan mengajak kekasihnya itu untuk berjalan-jalan mengelilingi desa atau hanya sekedar menonton haburan yang diadakan dibalai desa. Lastri yang saat itu merasa bahwa sudah menemukan cinta sejatinya, tidak pernah membayangkan akan mengalami masalah sebesar ini dikemudian hari.

“ Las... Lastri....” suara Sari menbuyarkan lamunan Lastri.
“ Kamu melamun Las ?”
“ Heh... ada apa ? ” tanya Lastri setelah sadar dari lamunannya. Dilihatnya sahabatnya itu sudah berdiri disamping gubuk.
“ Sebentar lagi mau siang, ayo kita pulang. Aku belum masak tadi. Bisa diomelin ibuku kalau aku belum masak.” Kata Sari.
“ Tunggu...” Lastri segera bangun dari duduknya dan merapikan roknya. Segera ia menyusul sahabatnya itu yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya.
“ Tunggu sebentar Sari..”
“ Ayo cepetan.....”

#.#.#.#.#

Siang itu, saat tamu tak diundang itu datang kerumah Lastri, gadis itu sedang duduk-duduk diberanda rumahnya.
“ Selamat siang ?” sapa tamu itu.
Lastri yang sedang asyik memandang kebun bunganya , menoleh mencari sumber suara itu. Dilihatnya seorang pemuda berperawakan tegap tengah berdiri disampingnya. Pemuda itu tersenyum kepadanya, senyuman yang mungkin akan mampu membuat gadis-gadis merasa terpikat. Namun, gadis itu bukan Lastri.
“ Oh, mas Irfan. Selamat siang juga mas... nyari siapa mas ?” Lastri segera berdiri dari duduknya dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.
“ Sedang jalan-jalan saja kok. Bapaknya ada ?” tanya Irfan.
“ Bapak sedang kebalai desa mas, mungkin sebentar lagi juga pulang. Ada perlu apa mas ? ” tanya Lastri cuek. Ia memang tidak terlalu suka dengan lelaki itu, entah apakah alasannya. Mungkin juga karena ayahnya berniat menjodohkannya dengan lelaki itu, sementara dia sendiri sudah memiliki kekasih.
“ Oh tidak ada apa-apa kok. Gimana kabarnya Dek Lastri ?”
“ Baik.....”jawab Lastri pendek.
“ Saya dengar dek Lastri sedang dekat sama Bayu ya ? ” tanya Irfan.
“ Kalau iya memangnya kenapa mas ? ”
“ Oh tidak apa-apa, saya hanya ingin mengingatkan dek Lastri supaya berhati-hati sama lelaki macam Bayu itu. Apa dek Lastri sudah tahu kalau Bayu itu anak Haram ? ”
“ Jangan ngomong sembarangan ya mas. Jangan suka menjelekkan orang lain. Itu tidak baik namanya mas. ”, lastri nampaknya tidak senang kalau ada yang menjelekkan kekasihnya itu.
“ Tapi ini benar lho Dek, bukan hanya sebatas omongan saja. Bayu itu memang......”
“ Kalau mas kesini hanya untuk membicarakan masalah ini. Maaf mas, saya tidak berminat untuk mendengarkannya, silahkan mas pulang saja. ” potong Lastri.
“ Lho kok marah Dek. Saya tidak bermaksud buruk lho...... saya hanya....”
“ Sudah saya bilang kalau mas ingin membicarakan masalah ini lagi. Silahkan mas pulang saja, saya masih ada pekerjaan lainnya yang harus saya kerjakan. Permisi.”, Lastri bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Irfan yang terbengong-bengong sendirian.
Sepeninggal Irfan, Lastri yang termenung dikamarnya mulai membayangkan abagaimana kelak hubungannya dengan Bayu akan berlanjut. Bapaknya yang diharapkan akan memberikan restu kepada lelaki pilihan hatinya itu, justru menolak mentah-mentah lelaki itu. Bapak justru memberikan calon suami kepadanya, calon yang bahkan belum dikenalnya dengan baik. Bahkan, Bapak dengan seenaknya sudah mengatur bahwa lelaki itulah yang nantinya sudah pasti akan menjadi suaminya kelak, bukan lelaki yang kini menjadi kekasihnya. Kini, hubungannya dengan Bayu nyaris tidak memiliki harapan setitikpun.

“ Tadi katanya Irfan kesini ya ?” tanya Bapak dari depan pintu kamar Lastri.
Lastri bangkit dari tidurnya dan duduk dipinggiran tempat tidurnya, “ Iya, kok Bapak tahu ? ”
“ Tadi Bapak berpapasan sama dia diujung gang sana. Ngomong apa aja tadi sama Irfan ?” tanya Bapak sambil melepaskan bajunya dan menggantungnya di tembok, menggantinya dengan kaos.
“ Tidak ngobrol apa-apa.... tadi kesini juga cuma sebentar kok, nyari Bapak. ” jawab Lastri sambil keluar kamar. Dilihatnya Bapak sedang duduk dikursi dekat meja kecil disamping kamarnya. Bapak terlihat capek, mungkin karena baru saja menghadiri acara diBalai desa tadi. Segera Lastri menuangkan air kedalam gelas dan memberikannya kepada Bapak.
“ Kamu harus bersikap baik sama dia. Dia itu yang nantinya jadi suamimu.” Kata Bapak sambil menerima Gelas itu. Lastri duduk dikursi yang berada agak jauh dari Bapaknya.
“ Kan Lastri sudah bilang pak, kalau Lastri cuma mau menikah sama mas Bayu. ”
“ Mau jadi apa kamu menikah sama lelaki yang enggak jelas asal – usulnya seperti itu ?”
“ Bapak jangan ngomong seperti itu. Mas Bayu itu orangnya baik pak, dia juga punya pekerjaan yang mapan kok. ”
“ Tapi, bagaimanapun orang tuanya itu enggak jelas. Orang seperti itu, sebaik apapun hidupnya, tetap saja kurang bagus. ”kata Bapak.
“ Tapi Lastri mencintai mas Bayu pak.......”
Bapak terkekeh, diletakkannya gelas air itu dimeja. “ Apa kamu bisa hidup hanya dengan cinta ? Ingat Lastri, restu dari orang tua itu penting untuk kebahagiaan pernikahan seorang anak, dan Bapak tidak akan pernah merstui hubungan kalian. Paham kamu ?”
“ Bapak tega sama Lastri......”
“ Lho, bukannya bapak tega, bapak hanya ingin yang terbaik untukmu.....”
“ Pokoknya aku enggak mau menikah dengan orang lain selain mas Bayu.”kata Lastri mantap.
“ LASTRI..... BERANI KAMU MELAWAN BAPAK !!!” bentak Bapak, dipukulnya meja yang ada disampingnya.
“ Lastri kan sudah bilang kalau Lastri enggak mau menikah sama mas Irfan... Lastri enggak cinta pak sama dia....”isak lastri.
“ Suka ataupun tidak, cinta atau tidak. Cuma Irfan yang bapak restui untuk menjadi suamimu. NGERTI KAMU !!!”
“ POKONYA LASTRI ENGGAK MAU.....” nada bicara Lastri mulai meninggi.
“ BERANI KAMU MEMBANTAH BAPAKMU INI ?”, Bapak melotot marah. Rasanya baru sekarang Lastri melihat Bapaknya semarah ini.
“ Bapak sendiri yang membuat Lastri seperti ini....” Lastri mencoba membela diri.
“ BAPAK TIDAK AKAN MERESTUI HUBUNGAN KAMU DENGAN SI BAYU ITU....” bentak Bapak sambil bertolak pinggang. Matanya menatap tajam anak gadisnya itu.
“ Bapak restui atau enggak, aku akan tetap menikah dengan Bayu....”

PLAK!!!!!

Tanpa disadari, tangan Bapak menampar keras wajah lastri. Lastri yang ditampar hanya bisa menangis dan menatap orang tuanya itu. Orang tua yang sudah membesarkannya selama ini dan selalu memberinya kasih sayang. Namun, mendadak kini sosok itu terlihat sangat berbeda, sangat kejam dan kasar.
“ PUKUL SAJA LASTRI PAK, SEMUA ITU ENGGAK AKAN MENGUBAH KEPUTUSAN LASTRI.... POKOKNYA LASTRI HANYA AKAN MENIKAH DENGAN MAS BAYU!!!”Lastri berlari menuju kamarnya. Dibantingnya keras pintu kamarnya itu. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Ia tumpahkan semua tangis yang selama ini ia pendam setiap kali beradu pendapat dengan Bapak mengenai hal ini. Ia ingin semua air mata yang tumpah hari itu akan berganti dengan kebahagiaan.

Malam harinya, Lastri mengurung diri dikamarnya. Entah sudah berapa kali Bapak dan mas Purnomo mengetuk kamarnya untuk mengingatkannya agar segera keluar dan makan malam. Bahkan, Bapak berulang kali mengetuk pintu itu hanya untuk mengatakan kalau Bapak minta maaf atas kejadian tadi siang. Bapak memang sudah keterlaluan. Namun, Lastri tidak bergeming sama sekali dengan semua itu. Ia sudah sangat sakit hati dengan perlakuan Bapak. Baginya, Bapak sudah kelewatan sampai menampar dirinya.

Ditatapnya langit malam. Disana hanya terlihat bulan yang bersinar terang. Sinarnya yang sangat terang itu mengalahkan sinar-sinar kecil dari bintang-bintang yang biasanya banyak menghiasi langit malam. Mungkin karena itulah, malam ini tidak nampak satupun bintang yang bersinar diatas sana. Bulan yang sendirian mengingatkan Lastri akan dirinya yang sedang bimbang. Antara memilih menyetujui perjodohan yang direncanakan oleh Bapak dan meninggalkan lelaki yang dicintainya, atau lebih memilih bersama dengan lelaki yang dicintainya dan melawan keputusan Bapak. Kedua pilihan itu sebenarnya sudah lama ia pikirkan, namun hingga saat ini rasanya Lastri masih bimbang dalam menentukan pilihannya. Ia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan menyesali dikemudian harinya. 

“ Aku enggak bisa Dek kalau kita enggak mendapat restu dari Bapak kamu” kata Bayu sambil menggenggam tangan Lastri. Ditatapnya mata gadis pujaannya itu.
“ Tapi bagaimana mas ? aku sudah berkali-kali meminta restu dari Bapak, tapi percuma saja. Bapak enggak ngasih restu mas....” jawab lastri.
“ Kalau begitu, biar aku saja yang mendatangi Bapakmu untuk minta restu. ”
“ Jangan mas, percuma saja. Kalau aku saja enggak bisa, apalagi kamu mas...” cegah Lastri. Ia tidak mau kalau sampai Bayu mengetahui permasalah sebenarkan antara dia dan Bapak.
“ Tapi apa salahnya kalau aku coba Dek ? siapa tahu aku bisa meyakinkan Bapakmu...” desak Bayu.
“ Percuma mas, sudah aku bulang kalau Bapak punya keputusan. Sudah enggak bisa dibantah lagi. ”kata Lastri meyakinkan kekasihnya itu.

Bayu bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju pinggir sungai yang airnya jernih. Disana tampak beberapa iakn kecil berenang kesana-kemari. Ditepi sungai itu terdapat beberapa tangkai teratai yang sedang berbunga. Diambilnya beberapa batu kecil dan dilemparnya kesungai itu. Riak air sungai membuat bayangannya diair itu tampak mengabur. Bayu berbalik, ditatapnya Lastri yang sedang duduk dibawah pohon Beringin.
“ Tapi aku hanya bisa menikahimu jika Bapakmu memberikan restu Dek Lastri. Restu orang tua itu sangat penting. ”
“ Aku tahu itu mas.... aku juga sama....”

Tak disadarinya, air mata Lastri mengalir membasahi pipinya. Percakapan dengan kekasihnya tadi siang masih teringat jelas dikepalanya. Bayu terus mendesaknya agar segera mendapatkan restu dari Bapak. Namun, kini rasanya semua itu akan semakin jauh saja dari kenyataan. Tampaknya, Bapak benar-benar tidak akan merestui hubungannya dengan Bayu.
Kini Lastri harus memilih, Bapak atau Bayu. Persimpangan itu mulai terlihat dimata Lastri. Sang gadis kecil yang kini telah mengenal cinta, harus menemukan jawabannya.

#.#.#.#.#

“ Pokoknya Lastri akan tetap menikah sama Mas Bayu. ”kata lastri dimeja makan.
Mas Purnomo dan bapak yang baru saja mau makan menghentikan kegiatan mereka. Bapak menatap lekat anak gadisnya itu.
“ Maksud kamu apa Lastri ? kan mas sudah pernah bilang kalau Bayu itu orang yang enggak jelas asal-usulnya. Masa kamu mau menikah smaa orang seperti itu ?”tanya Mas Purnomo sambil mengambil nasi di bakul.
“ Terserah mas mau ngomong apa. Pokonya aku hanya akan menikah sama mas Bayu.” Jawab Lastri ketus.
“ Jangan bodoh kamu!!!” nada bicara Mas Purnomo meninggi.
“ Bapak kan sudah memilihkan calon buat kamu. Kamu seharusnya menikah sama calon Bapak itu, bukan sama si Bayu itu.” Lanjutnya
Lastri menatap tajam wajah kakaknya itu, “ Memangnya siapa yang mau menikah ? kalau mas mau sama Irfan ? ya mas saja yang menikah sama dia....”
“ KAMU..!!!! ”
“ SUDAH CUKUP!!! NINI WAKTUNYA SARAPAN. JANGAN BERTENGKAR.....”bentak Bapak menengahi.
“ Tapi Pak....”
“ DIAM KAMU PUR. DAN KAMU LASTRI......” ditatapnya anak gadisnya itu.
“....BAPAK SUDAH BILANG SAMA KAMU KALAU BAPAK TIDAK AKAN MERESTUI HUBUNGAN KALIAN BERDUA. APA UCAPAN BAPAK BELUM CUKUP JELAS DITELINGA KAMU ? ”bentaknya.
“ TAPI LASTRI HANYA MENCINTAI MAS BAYU PAK.....”mata Lastri menatap Bapaknya. Sudah cukup rasanya ia mengalah dalam perdebatan ini.
“ BAPAK TIDAK PERDULI DENGAN MASALAH ITU....”
“ BAPAK SELALU SAJA BICARA BEGITU.......” kata Lastri. Ia bangkit dari duduknya. Ditatapnya mata Bapak.
“ SEJAK DULU BAPAK SELALU MENGATUR HIDUP LASTRI. LASTRI CAPEK PAK, LASTRI JUGA INGIN BAHAGIA. ORANG TUA MACAM APA YANG SELALU MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA PADA ANAKNYA TANPA MENGETAHUI APA YANG DIINGINKAN ANAKNYA. BAPAK ITU SEBENARNYA ORANG TUA LASTRI APA BUKAN SIH ?!!!!!”
“ LASTRI!!!! JAGA BICARAMU...” bentak mas Purnomo. Ditatapnya adiknya itu, yang ditatap malah balik menatap tajam sang kakak.
“ MAS DIAM AJA. MAS SENDIRI JUGA SEENAKNYA MENJELEK-JELEKKAN ORANG LAIN SEENAKNYA. MEMANGNYA BAYU ITU ADA SALAH APA SAMA MAS SAMPAI MAS NGARANG CERITA SEPERTI ITU ? KALAUPUN CERITA ITU MEMANG BENAR, APA UNTUNGNYA BUAT MAS UNTUK MEMBEBERKANNYA SAMA BAPAK HAH ? APA MAS ? ”teriak lastri lantang. Emosinya sudah meluap-luap. Rasanya ia ingin menumpahkan semuanya hari itu juga.
“ Mau Bapak restui atau tidak. Yang akan menjadi suamiku adalah Mas Bayu. Aku tidak butuh restu dari Bapak. TITIK...”kata Lastri sambil meninggalkan meja makan. Meninggalkan Bapak dan mas Purnomo yang masih duduk disana.

Lastri berlari keluar rumah. Ia ingin segera menemui kekasihnya dan mengatakan kalau dirinya ingin segera menikah. Ia sudah tidak peduli lagi dengan masalah restu yang belum diberikan oleh Bapak. Ia hanya ingin menggapai kebahagiaannya sendiri. Langkahnya yang berat perlahan menjauhi rumahnya dengan mantap. Ia sudah merasa capek selalu ditekan dirumah itu, rumah yang kini nyaris seperti penjara. Langkahnya membawanya menggapai kebahagiaannya. Tujuannya telah dimantapkannya, Bayu.

“ Apa kamu sudah pikirkan hal ini dengan baik-baik Dek Lastri ? apa kamu tidak merasa tergesa-gesa ?” tanya Bayu begitu kekasihnya itu mengutarakan maksud kedatangannya.
“ Aku sudah memikirkan ini mas. Percuma menunggu restu dari Bapak. Bapak enggak akan memberikan restu sama kita. Aku hanya ingin bahagia, itu saja mas. ”
“ Iya mas tahu itu. Tapi bagaimana dengan Bapakmu Dek ?”
“ Apa mas tidak mau menikah dengan saya ? ” tanya Lastri. Ditatapnya kekasihnya itu lekat. Salahkah keputusannya ini ?
“ Tentu aku ingin.......”
“ Kalau begitu segera nikahi aku mas. Jangan lagi mas memperdulikan masalah restu dari Bapakku. ”potong Lastri.
“ Tapi tetap saja Dek, kita mau menikah dimana ? ”tanya Bayu bimbang.
“ Kita kekota saja mas. Ketempat pamanku. Kita menikah disana. Biar pamanku yang jadi wali nikahku nanti. ”
“ Tapi Dek Lastri......”
“ Mas mau atau tidak ? ”tanya Lastri setengah memaksa.
“ Baiklah kalau begitu. ” Bayu akhirnya mengalah.
“ Ya sudah. Kalau begitu nanti kita bertemu di stasiun jam 2 siang. Kita berangkat hari ini juga. ”kata Lastri bahagia.
“ Iya Dek.....”

#.#.#.#.#

Stasiun Wonokromo tampak ramai. Banyak orang lalu-lalang kesana-kemari. Tempat duduk yang biasanya terlihat sepi, kini dipenuhi oleh orang-orang dengan bawaannya yang banyak. Nampaknya, sebagian besar orang-orang ini akan bepergian jauh. Disamping rel kereta api, tampak petugas stasiun memberikan peringatan kepada para pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan rel. Petugas tersebut juga memberikan peringatan apabila kereta akan datang, penumpang yang akan naik kereta diingatkan agar bersabar dan menunggu agar penumpang yang didalam kereta untuk turun terlebih dahulu. Dari pengeras suara, terdengar suara petugas yang menginformasikan kedatangan dan keberangkatan kereta. Pedagang asongan juga banyak berkeliaran menjajakan berbagai macam dagangannya, mulai dari yang berdagang buah hingga yang berjualan majalah dan mainan anak-anak.

Disalah satu tempat duduk, tampak Lastri yang sedang melamun. Ia sedang memikirkan apakah benar semua keputusannya ini adalah yang terbaik ? sekali lagi persimpangan itu semakin jelas terlihat dimatanya.

Benarkah keputusanku ini ? apakah mas Bayu akan mampu membahagiakan aku nantinya ? bagaimana dengan Bapak ? apakah aku sudah menjadi anak yang durhaka kepadanya ? apakah sikapku ini melukainya ? apakah Bapak akan memaafkannya ? ah, andaikan saja Bapak memberikan restu kepadaku, tentu aku tidak perlu mengambil langkah ini. Seandainya saja Bapak bisa menerima mas Bayu dengan semua kekurangannya. Memang sebaik apakah mas Irfan dimata Bapak ? mengapa ia mendapatkan restu Bapak sementara mas Bayu tidak ? apakah hanya karena mas Bayu adalah anak haram, seperti yang dibilang mas Purnomo ?, batin Lastri.

“ Ah aku harus mantap memilih mas Bayu.”ujar Lastri.
“ LASTRI.....”

Sebuah teriakan mengagetkan Lastri. Lastri segera mencari sumber suara itu. Dilihatnya Sari berlarian kearahnya dengan tergesa-gesa. Diwajahnya tampak raut wajah sedih. Lastri bertanya dalam hati, Apa yang dilakukan Sari disini ? ada apa ini ? kenapa ia tampak sedih ?.
Lastri bangkit dari duduknya.” Ada apa Sar ? ngapain kamu kesini ?”
Sari berusaha tenang, ia mengatur nafasnya, “ Bapakmu Las, Bapakmu....”
Lastri mengela nafas, “ Bapak kenapa ? sudahlah aku enggak mau dengar apapun tentang dia. ”
“ LASTRI, DENGARKAN AKU DULU.....”bentak sari.
“ Ada apa sih ?” Lastri mulai paniik. Kenapa sahabatnya itu ?
“ Bapakmu masuk rumah sakit Las. Katanya Jantungnya kumat. Saat ini dia koma. Mas Purnomo minta aku untuk mencarimu..... Lastri.....Lastri, kamu dengar aku tidak ?....”

Lastri terpaku. Semua yang ada dihadapannya mengabur. Teringat dihadapannya saat ia mmbentak Bapak tadi siang. Teringat dikepalanya saat ia membentak Bapak kemarin. Semuanya bergantian melintas dihadapannya. Semuanya mulai meruntuhkan kebahagiaannya. Kebahagiaan yang diharapkannya tadi. Kini yang ada dihadapannya hanyalah penyesalan yang terdalam. Haruskah ia segera melangkahkan kakinya untuk segera menemui Bapak ? memohon ampun atas segala kesalahannya yang sudah dilakukannya ? kesalahan yang mungkin sangat besar hingga akan sulit untuk dimaafkan ? siapkah dia seandainya nanti mas Purnomo akan mencacinya habis-habisan karena perlakuannya kepada bapak ? ataukah ia tetap disini. Menunggu kekasihnya datang dan pergi meninggalkan Bapak sendirian yang sedang meradang maut ? pergi jauh dan meretas kebahagiaan yang sangat diharapkannya selama ini ? kebahagiaan yang ingin diwujudkannya bersama dengan kekasihnya itu ? kebahagiaan yang akan menjauhkannya dengan Bapak, orang yang selama ini sudah membesarkan dan memberikannya kebahagiaan yang tiada tara.

Persimpangan itu kini semakin membesar. Pelupuk mata lastri tiba-tiba mengabur. Air matanya menetes deras membanjiri pipi itu. Pandangannya mulai mengabur. Kepalanya berat. Seluruh dunia seolah menjadi gelap dimatanya.

Lastri Pingsan.

Diary

Apa kabar Diary ? hari ini aku merasa sedikit bahagia. Walaupun badanku sedikit merasa sakit, tapi hari ini aku merasa bahagia sekali. Yah mungkin memang sudah saatnya aku untuk bisa kembali tersenyum. Aku sudah bisa melupakan semua hal buruk yang belakangan ini terjadi kepadaku. Mulai saat ini aku akan berusaha untuk tidak memusingkan hal itu kembali. Rasanya sudah cukup kepalaku selalu dipenuhi dengan masalah-masalah yang sama ini. Masalah yang semakin hari semakin menyesatkan pikiranku saja.

Hari ini aku bangun seperti biasa, kesiangan. Mungkin karena semalam aku begadang menulis cerpen. Yah mungkin mulai saat ini di Blogku ini juga akan aku muat beberapa hasil karanganku, baik itu cerpen maupun puisi. Yah selamat menikmati saja deh nanti. Bangun-bangun tadi aku sudah merasa kalau kepalaku agak pusing. Memang sih sejak semalam aku enggak bisa berhenti  bersin-bersin. Bahkan, dari hidungku dan mulutku juga keluar cairan kental kekuningan yang rasanya asin, kalian pasti sudah tahu kan itu namanya apa. Semalam kalau enggak salah aku tidur jam 3 . Ups, itu bukannya malam ya ? tapi udah pagi. Hehehehe.....

Oh iya, hari ini Shi tampaknya lebih ceria dibandingkan kemarin. Makanannya yang aku berikan tadi juga langsung dihabiskannya dalam sekejap, yah walaupun beberapa ada yang terjatuh sih dan tidak dia makan. Aku heran, setiap kali aku memperhatikannya, Shi pasti akan berlarian kesana-kemari, seperti ingin menghindari tatapanku. Tapi kalau aku biarkan, dia pasti akan diam. Kadangkala aku bingung, apa mungkin Shi tidak senang berada didekatku ? apa mungkin ia ingin agar aku melepaskannya dan membiarkannya pergi bebas ? tapi, sejujurnya aku enggak mau kehilangan Shi. Aku enggak mau kehilangan saat-saat yang sudah aku lewati bersamanya beberapa hari ini. Aku sangat menyayanginya. Bagiku, Shi adalah salah satu penyemangat kehidupanku. Kalau dia hilang, pasti aku akan sedih dan merasa terpukul kembali. Aku enggak mau hari-hariku kembali kedalam kesedihan.

Kalau Ciyo berbeda. Dia selalu saja tenang, entah saat aku memperhatikannya ataupun saat aku melupakannya. Bagiku, Ciyo adalah pendengar keluh kesahku yang terbaik. Dia selalu mendengarkan semua ceritaku tanpa pernah memotongnya. Dia membiarkan aku menumpahkan semua hal yang aku rasakan dihari itu dengan baik dan tenang. Dia juga tidak memperlihatkan raut muka yang merasa bosan karena sudah menjadi pendengar setiaku. Makanya, bagiku Ciyo adalah pendengar dan sahabat yang sangat aku banggakan. Walaupun kadang-kadang aku enggak bisa memahami apa yang ada diddalam pikirannya, tetapi aku senang kalau dia mau didekatku. Ciyo juga selalu mau menemaniku disaat semua orang mengucilkanku. Dialah yang selalu memberikan aku semangat. Walaupun dia hanya diam saja menatapku, tapi dari pancaran matanya aku bisa tahu kalau dia ingin agar aku tidak bersedih lagi. Karena itulah aku juga ingin mengabulkan harapan Ciyo dengan tidak bersedih lagi. Aku juga ingin berarti bagi Ciyo, seperti ia juga sangat berarti buat aku.

 Baik Ciyo ataupun Shi, keduanya adalah bintang cahaya kebahagiaanku. Tidak akan aku biarkan mereka meninggalkanku dikegelapan ini lagi. Kegelapan yang nyaris membuatku berubah menjadi sosok yang selama ini ingin aku musnahkan. Karena aku hanya ingin mempunyai satu pribadi. Namun, mungkin karena memang sudah takdir rasi Gemini. Setiap manusia yang berada dibawah naungannya, pasti akan memiliki dua kepribadian. Entah itu pribadi yang baik, ataupun pribadi yang buruk. Namun, didalam diriku, kedua pribadi itu saling menguatkan. Bahkan, mungkin jika aku hanya memiliki satu pribadi saja dari keduanya, aku akan sangat rapuh.

Mentari tidak hanya bersinar sekali
Air tidak hanya mengalir sejengkal
Hujan tidak hanya turun sebentar
Dan angin tidak hanya bertiup searah

Esok hari mentari akan kembali disingasananya
Memberikan kehangatan baru untuk setiap jiwa yang tersesat
Memberikan sentuhan lembut bagi setiap kulit yang menggigil
Memberikan secercah harapan bagi tunas untuk berkecambah.
Di ujung sana, air akan selalu mengalirkan kehidupan ke lembah-lembah tandus
Menghidupkan semuanya yang menangis sekarat
Hujan akan menurunkan semua air matanya
Menatap sedih setiap jiwa yang menggelepar
Dan angin....
Angin akan tetap bertiup
Entah dari mana ia akan datang
Mungkin dari atas
Atau mungkin dari samping
Bisa juga dari depan
Tapi bagaimana kalau dari belakang ?
Tetapi yang pasti, aku akan selalu melangkah
Langkah yang semakin menjauh dari masa lalu
Langkah yang semakin mendekatkanku ke dalam masa depan
Langkah yang gontai namun pasti dalam pijakannya.